Dari Pelayan Restoran hingga Staf HRD Tesla di Berlin: Kisah Inspiratif Evan Haidar
Membongkar Rahasia Karir Global: Perjalanan Evan Haidar, HRD Asli Indonesia di Tesla
HRD Asli Indonesia di Tesla
Mendapatkan posisi di perusahaan teknologi raksasa global sekelas Tesla adalah impian banyak profesional di seluruh dunia. Namun, bagaimana jika posisi strategis di kantor regional Tesla di Eropa itu diisi oleh seorang anak muda asli Indonesia? Ini bukan kisah fiksi, melainkan perjalanan nyata dari Evan Haidar, HRD Asli Indonesia di Tesla1. Saat ini, Evan bertugas di kantor Tesla di Berlin, Jerman, memegang peran penting dalam mengelola sumber daya manusia di salah satu perusahaan paling dinamis di dunia.
Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan karyawan Tesla sangatlah langka. Dalam perbincangan ini, Evan membeberkan perjalanan karirnya yang tidak terduga, dari seorang pekerja serabutan dan mahasiswa di Jerman, hingga menembus gerbang perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk tersebut.
Awal Mula: Dari Iseng Mendaftar Hingga Diterima di Tesla
Evan Haidar, yang telah menetap di Jerman selama sembilan tahun, menceritakan bagaimana ia mendarat di Tesla bukanlah hasil perencanaan karir yang kaku, melainkan dimulai dari keisengan
Perjalanan Evan Haidar, HRD Asli Indonesia di Tesla
Sebelum bergabung dengan Tesla, Evan bekerja sebagai profesional HR di sebuah perusahaan konsultan di Berlin5. Namun, kontrak kerjanya saat itu bersifat tahunan dan akan segera berakhir tanpa kepastian perpanjangan. Dalam situasi ketidakpastian tersebut, Evan memutuskan untuk mencoba peruntungan.
"Aku iseng aja cobalah daftar-daftar apa perusahaan," kenangnya. Ia menghabiskan satu sore di kafe, mendaftar ke beberapa perusahaan—total hanya sekitar lima—dan salah satunya adalah Tesla.
Siapa sangka, keisengan tersebut berbuah manis. Tesla mengundangnya untuk wawancara, dan ia berhasil lolos9. Evan mengakui bahwa tawaran kerja dari Tesla jauh lebih menarik, sehingga ia memutuskan untuk mengambil langkah besar dan pindah.
Banyak yang menduga bahwa riwayatnya di perusahaan konsultan adalah kunci keberhasilannya menembus Tesla, mengingat perusahaan teknologi seringkali mencari lulusan firma konsultan yang dianggap memiliki kualitas unggul11. Namun, kisah Evan jauh lebih dalam dari sekadar riwayat profesional yang cemerlang.
Babak Awal di Jerman: Merintis Hidup dari Nol
Untuk memahami bagaimana Evan bisa mencapai posisi HRD Tesla di Berlin, kita harus kembali ke sembilan tahun lalu, ketika ia pertama kali tiba di Jerman setelah lulus SMA.
HRD Tesla di Berlin: Kisah Inspiratif Evan Haidar
Tujuannya adalah menempuh pendidikan tinggi. Namun, biaya hidup di Jerman yang tinggi menuntutnya untuk mandiri secara finansial sejak awal. Jauh sebelum menikmati karir kantoran, Evan melewati masa-masa perjuangan sebagai pekerja serabutan.
"Apapun aku lakukan untuk membiayai hidup aku karena di sana kan biaya hidup mahal," katanya15.
Pekerjaan yang ia lakoni sangat beragam: dari menjadi pelayan restoran, bekerja di pabrik, hingga menjadi staf dapur di Burger King16. Semua ini dilakukan bahkan sebelum ia mulai kuliah
Saat memulai kuliah di jurusan Bisnis Internasional, Evan masih bekerja paruh waktu sebagai waiter di sebuah restoran Italia. Di sinilah ia menghadapi lingkungan kerja pertamanya yang "agak toxic". Ia mengenang salah satu manajer yang kasar dan kurang manusiawi.
Salah satu insiden paling aneh adalah ketika Evan izin pergi ke toilet di tengah kesibukan. Sang manajer curiga Evan akan "kabur" dari pekerjaan, lalu meminta telepon genggamnya dan menyitanya21.
"Aneh banget orang mau ke toilet disuruh ngasih," kata Evan22. Bahkan setelah kembali dari toilet, ia dituduh-tuduh lama berada di sana. Evan baru mengetahui dari koleganya bahwa tindakan meminta ponsel pribadi karyawan adalah pelanggaran serius hukum ketenagakerjaan di Jerman. Lingkungan yang sangat toksik ini akhirnya membuat Evan tidak tahan dan mendorongnya mencari peluang lain25.
Terobosan Karir Pertama: Kualitas Personal Mengalahkan Skill
Saat kuliah semester dua, dan terdorong oleh lingkungan kerja yang toxic, Evan mencoba mendaftar untuk pekerjaan kantoran paruh waktu, meskipun ia merasa tidak memilik pengalaman atau skill yang relevan—CV-nya hanya berisi riwayat pekerjaan kasar.
Secara mengejutkan, ia diundang wawancara oleh Samsung Next, anak perusahaan Samsung yang bergerak di bidang Venture Capital (modal ventura)27. Ia lolos dan ini menjadi pekerjaan kantoran pertamanya saat masih berstatus mahasiswa paruh waktu
Saat Evan bertanya mengapa ia dipilih, jawabannya sungguh membuka mata:
"Ternyata mereka suka dengan pribadi aku gitu, karakter aku... Jadi mereka mikirnya kayak oh nih anak cocok nih dengan timnya. Jadi enggak melulu tentang skill doang ternyata"
Perusahaan menyadari bahwa skill teknis dapat diajarkan setelah bekerja, namun karakter dan personality adalah aset yang tidak bisa diabaikan30. Evan menduga, keramahan dan sikap positifnya sebagai orang Indonesia, yang terpancar selama wawancara non-teknis, menjadi faktor penentu31.
Inilah pelajaran berharga yang membuka jalan karir Evan: kepribadian dan kecocokan tim (cultural fit) bisa lebih penting daripada daftar skill di atas kertas.
Evolusi Menjadi Spesialis HR dan Perekrut
Sayangnya, setelah satu setengah tahun bekerja, kantor Samsung Next tempatnya bekerja ditutup karena pemotongan biaya (cost cutting) dan layoff32. Evan pun harus mencari pekerjaan baru.
Perjalanan membawanya ke perusahaan teknologi lain di Berlin, kali ini sebagai rekruter paruh waktu. Awalnya, posisi ini tidak ada dalam bayangannya35. Namun, ia mengambilnya agar tidak ada jeda (gap) dalam karir sambil tetap harus mencari penghasilan36.
Ternyata, peran sebagai rekruter cocok dengannya37. Ia menyukai kesempatan untuk melihat perspektif dari sisi yang berbeda, dari yang tadinya selalu diwawancara (interviewee) menjadi pewawancara (interviewer)3
Seni Wawancara: Menemukan Kepribadian di Balik CV
Sebagai rekruter, Evan berbagi kunci utama dalam proses wawancara. Ia mengatakan bahwa pertanyaan sederhana seperti "Please tell me about yourself" bisa mengungkap banyak hal39. Jawaban yang baik adalah yang mampu menjual diri secara positif, tanpa terkesan sombong atau terlalu fokus pada diri sendiri40.
Ia juga mengamati perbedaan budaya yang signifikan dalam sesi wawancara, terutama antara kandidat dari Jerman dan Asia:
Kandidat Jerman/Eropa: Cenderung lebih straight forward (langsung), berani speak up, dan terkadang terkesan dingin41.
Kandidat Asia: Cenderung lebih malu-malu
Evan menceritakan pengalaman wawancara paling aneh yang menunjukkan perbedaan budaya tersebut: seorang kandidat dari Asia yang terlambat, bergabung dalam wawancara Zoom sambil berada di mobil bersama temannya, dengan radio yang menyala. Kandidat itu bahkan sempat mematikan kamera untuk naik tangga ke lantai 5 hingga terengah-engah, lalu menyalakannya kembali untuk melanjutkan wawancara44. Tentu saja, perilaku ini dianggap sebagai red flag dan wawancara tidak dilanjutkan, menunjukkan betapa pentingnya profesionalisme dan kesiapan, terlepas dari kualitas CV yang mungkin bagus.
Karir Evan terus menanjak, melalui tantangan layoff lain dan akhirnya mendapatkan magang di anak perusahaan Volkswagen (VW) di bidang recruiting6. Meskipun ia tidak pernah merencanakan secara spesifik di jalur recruiting atau HR, jalannya seolah membawa ia ke sana, memperkaya CV-nya dengan nama-nama perusahaan besar, yang pada akhirnya membuka peluang besar ke Tesla7.
Pilar Kesuksesan: Kerja Keras Mahasiswa dan Pendidikan Gratis Jerman
Kesuksesan Evan tidak lepas dari etos kerja keras yang ia bangun sejak dini48. Alih-alih aktif dalam organisasi kemahasiswaan, ia memilih fokus pada pembangunan karir sedini mungkin
Keputusan ini didorong oleh realitas: ia sadar bahwa lulus kuliah tanpa pengalaman kerja nyata akan menyulitkannya bersaing dengan lulusan lokal. Sejak awal, ia bertekad untuk membangun karir sambil menyelesaikan studi.
Keunggulan Bahasa Inggris dan Pendidikan Gratis
Hebatnya, Evan mampu bekerja di perusahaan multinasional di Jerman yang beroperasi dalam bahasa Inggris52. Ini membuktikan bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya yang mumpuni sejak kecil—yang ia dapatkan dari bermain game dan membaca buku—menjadi aset yang jauh lebih berharga daripada keahlian bahasa Jerman tingkat tinggi untuk konteks profesional multinasional.
Yang tak kalah menarik, Evan membagikan fakta mengenai pendidikan di Jerman: biaya kuliah di Jerman hampir gratis, bahkan untuk international student atau orang asing54. Pemerintah Jerman menggratiskan biaya pendidikan mulai dari TK hingga kuliah55.
Tantangan terbesarnya bagi orang Indonesia adalah memenuhi syarat visa, yang mewajibkan deposit sejumlah besar uang di rekening untuk biaya hidup satu tahun ke depan56.
"Ayahku ternyata waktu itu pinjam duit buat ngeberangkatin aku itu. Tapi waktu Jermannya aku semua," ungkap Evan, menunjukkan besarnya dukungan keluarga dan pengorbanan finansial di awal57.
Meskipun deposit awal bisa mencapai ratusan juta Rupiah, begitu tiba di sana, biaya kuliah hanyalah biaya administrasi semesteran (sekitar Rp6 juta), dan biaya hidup per bulan di Berlin berkisar antara Rp15–20 juta jika berhemat.
Evan menyayangkan rendahnya literasi mengenai peluang kuliah gratis di Jerman ini di Indonesia5. Padahal, akses informasi yang tepat dan mindset yang benar bisa sangat mengubah hidup seseorang.
Kultur Kerja HR di Jerman: Keseimbangan Hidup dan Cuti 30 Hari
Sebagai seorang profesional HR yang berpengalaman di Jerman, Evan memberikan wawasan menarik mengenai budaya dan aturan ketenagakerjaan di sana yang berbeda jauh dari Indonesia.
Lembur yang Sangat Teratur dan Dihindari
Aturan lembur (overtime) di Jerman diatur sangat ketat oleh hukum61. Batas jam kerja normal adalah 8 jam per hari62. Jika melebihi itu, perusahaan wajib memberikan kompensasi63. Hukum ini ditegakkan dengan sangat keras, bukan sekadar tertulis
Menariknya, mayoritas perusahaan justru mendorong karyawan untuk tidak mengambil lembur65. Selain karena menghindari biaya kompensasi, budaya kerja di Jerman sangat menjunjung tinggi keseimbangan hidup dan kerja (Work-Life Balance).
Evan sering mendengar dari bosnya di HR:
"Ah udah pulang aja, dilanjutin besok bisa kan kita enggak nyelametin dunia juga".
Kutipan ini secara ringkas menggambarkan filosofi kerja di Jerman: pekerjaan memang penting, tetapi tidak perlu mengorbankan istirahat pribadi.
Efisiensi ala Jerman vs. Small Talk Amerika
Perbedaan budaya juga terasa dalam rapat. Evan, yang kini bekerja di Tesla (perusahaan Amerika), merasakan betul kontras antara gaya kerja Amerika dan Jerman:
Jatah Cuti Tahunan: 30 Hari Kerja
Salah satu fakta yang paling mengejutkan adalah jatah cuti tahunan di Jerman. Jika standar di Indonesia berkisar 12 hingga 15 hari, di Jerman, karyawan mendapatkan 30 hari kerja cuti tahunan72.
Cuti sebanyak 30 hari ini bahkan sangat dianjurkan untuk dihabiskan dalam tahun yang sama. Meskipun sisa cuti dapat dinegosiasikan untuk ditarik ke tahun berikutnya dengan alasan yang masuk akal, perusahaan sangat mendorong karyawan untuk mengambil hak istirahat mereka73. Karyawan bahkan diizinkan mengambil cuti berurutan selama manajer menyetujui.
Ini adalah bukti nyata komitmen Jerman terhadap kesejahteraan karyawan, sebuah sistem yang memastikan setiap profesional, termasuk HRD Tesla Asli Indonesia seperti Evan Haidar, memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan mengisi ulang energi.
Penutup: Inspirasi untuk Karir Global
Kisah Evan Haidar adalah inspirasi nyata tentang bagaimana tekad, adaptasi, dan keberanian dapat membuka pintu karir global yang paling eksklusif. Dari nol di Jerman, melewati pekerjaan serabutan, hingga menempuh pendidikan gratis, ia membuktikan bahwa latar belakang tidak menentukan hasil.
Posisinya sebagai HRD di Tesla, salah satu perusahaan paling inovatif di dunia, bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga penanda bahwa profesional Indonesia memiliki tempat untuk berkarya di panggung global, bahkan dalam lingkungan yang menuntut efisiensi tinggi dan menjunjung tinggi Work-Life Balance seperti Jerman. Evan Haidar telah membuka jalan bagi generasi profesional Indonesia berikutnya.



Komentar
Posting Komentar